Healthy Life, Good Life

April 30, 2012

Pasangan Yang Selalu Bertengkar

Filed under: Relationship — by myhealthylife @ 3:08 pm
Tags:

Tiba-tiba ditinggal pacar?  

Tanya Dr. Gilda

Oleh Dr. Gilda Carle, Ph.D.

 Image

Dear Dr. Gilda,
Saya seorang pria 46 tahun yang sudah berpacaran selama hampir 2 tahun. Saya sangat mencintainya, tapi karena temperamen kami berdua, kami bisa bertengkar bahkan untuk hal-hal yang sepele. Sebagai laki-laki, saya memang mempertahankan ego yang keras, dan lebih sering, dia lah yang memulai berbaikan.

Dia beberapa kali menuduh saya tidak setia, padahal itu tidak benar. Saya akui bahwa karena temperamen saya yang tinggi, saya sering membalas dengan kata-kata kasar dan mengancam untuk putus. Namun kemudian saya menyesali ucapan dan tindakan saya tersebut. Saya tidak ingin berakhir dengan perceraian lagi. Tolong bantu saya!
– Ted yang bertemperamen panas –  

Dear Ted yang bertemperamen panas,
Salah satu resep Gilda-Gram saya mengatakan, “Temperamen tinggi (Temper tantrums) tidak punya tempat di dalam cinta.” Kenapa? Karena naiknya temperamen dalam pertengkaran adalah tuntutan kekanak-kanakan satu arah untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan, sedangkan cinta yang sehat memerlukan jalan dua arah yang bisa dinegosiasikan. Temper tantrums memperlihatkan naiknya amarah yang berisik dan liar, yang menjauhkan pasangan Anda, dan pada saat yang sama menghalangi cara orang dewasa saling mendengarkan dan berdiskusi.

Pahamilah bahwa kalian berdua telah diarahkan untuk saling menemukan atau menemukan sseseorang yang serupa. Salah satu Gilda-Gram saya yang lain menyatakan, ”Kita akan menarik orang yang seperti kita.” Maka kalian yang bermulut kasar secara alamiah telah menarik seseorang yang sama-sama bergaya kasar. Akan dibawa kemana hubungan kalian jika kalian selalu berteriak pada yang lain ketika tidak mendapatkan apa yang kalian inginkan?

Selain mencerminkan usaha yang payah dalam hal menyampaikan informasi, terdapat pula persoalan ketidakpercayaan. Tidak ada cinta yang bisa survive kecuali kedua pasangan bersedia menurunkan perisai pertahanannya, bahkan hingga taraf mengambil resiko perasaan tersinggung. Secara tidak sadar, kalian berdua berasumsi kalian perlu melindungi diri sebagai perisai terhadap kemungkinan tersebut.

Jadilah kalian berdua orang-orang tertutup yang dengan mudah terbakar dan langsung kehilangan kendali begitu merasa tersinggung. Laki-laki malang, kalau ingin mencegah terjadinya perceraian lagi, Anda harus mengubah tarian yang Anda mainkan. Ini caranya:

  1. Kalian berdua harus segera mendaftar pada program pengelolaan kemarahan secara terpisah. Harus pada program yang terpisah sebab kalian bisa jadi bereaksi berbeda pada tombol panas yang berlainan – dan sebaiknya perhatian kalian tidak saling terganggu di dalam kelas yang mungkin akan menghambat pertumbuhan kalian.
  2. Kalian berdua harus menemui terapis yang berbeda – paling tidak untuk sementara waktu, sampai kalian merasa cukup kuat untuk menurunkan perisai kalian di hadapan masing-masing.
  3. Kalian berdua harus membaca buku tentang ‘hubungan” (relationship).  Anda harus baca buku John Gray Men Are from Mars, Women Are from Venus, dan pacar Anda harus baca buku saya Don’t Bet on the Prince! How to Have the Man You Want by Betting on Yourself. Bandingkan apa yang telah kalian pelajari, dan secara matang dan dewasa, bahaslah dengan cara bagaimana kalian ingin membuat hubungan kalian menjadi sehat.

Persoalan ‘kemarahan’ ini harus ditangani saat ini juga. Biasanya, bahasa yang keras dan menyinggung perasaan dapat dengan cepat bereskalasi menjadi tindakan kekerasan. Ubahlah langkah-langkah tarianmu dan ikuti irama dansa waltz menuju hari esok yang bahagia dan sehat.-

Source: http://msn.match.com/msn/article.aspx?articleid=8038&TrackingID=516311&BannerID=544657&menuid=7&GT1=10287

 

Advertisements

September 13, 2011

Fish oil for Depression

Filed under: Health — by myhealthylife @ 4:09 pm

Tubuh kita memerlukan asam lemak Omega-3, seperti a.l. EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid) dalam jumlah yang cukup, yaitu 2-4 gr per hari. Sebetulnya Omega-3 terdapa dalam makanan sehari-hari seperti daging sapi, telur dan unggas, dan paling banyak terdapat dalam lemak ekan air dingin, ikan yang mengandung minyak dan suplemen. Rekomendasi Dr. Weil adalam mengkonsumsi ikan air dingin yang segar baru ditangkap. Kalau nutrisi Omega-3 ini kekurangan, efeknya terutama muncul dalam bentuk mood yang selalu buruk, mudah tersinggung, mudah be-te, mudah stress dan yang paling parah adalah depresi. Tapi karena saran ini agak sulit diikuti, apalagi untuk negeri seperti indonesia, disarankan mengkonsumsi suplemen Omega -3 dalam bentuk minyak ikan. Baca label dengan seksama: pastikan suplemen tsb tidak mengandung Omega-6 dan -9, yang sebetulnya tidak perlu ditambah dari luar tubuh. Terus baca ya..

April 20, 2010

Anak Dengan Kebutuhan Khusus

Filed under: Child Education — by myhealthylife @ 3:42 pm

Anak Dengan Kebutuhan Khusus
Rubrik BERANDA, Media Indonesia, Minggu, 7 Mei 2006

Mengenali kondisi anak sejak dini sangatlah penting. Sebab, bukan mustahil si buah hati memerlukan penanganan khusus karena mengalamai kesulitan belajar secara spesifik. Padahal ia bukanlah anak yang bodoh.

Matahari memancarkan sinarnya dengan terik. Namun sekumpulan anak-anak tanggung berusia 7-12 tahun tidak peduli dengan sengatan sang surya. Mereka bahkan berlari-larian di halaman sekolah dasar Pantara, Senopati, Jakarta Selatan.

Lonceng sekolah tanda istirahat memang belum lama dibunyikan. Tampak seorang anak laki-laki berkacamata sedang mengejar temannya yang berlari-lari membawa sebuah bola. Di sudut lainnya tiga anak perempuan sedang duduk-duduk dan mengobrol di bawah sebatang pohon rindang.

Sepintas tidak ada yang perlu dipertanyakan dengan segala tingkah polah mereka. Namun, di balik semua itu, ternyata mereka merupakan anak-anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (learning difficulties/LD). Bahkan, sering disebut sebagai anak yang memiliki gaya belajar berbeda.

Venty, 38, merupakan salah sato orang tua yang memiliki anak dengan kesulitan belajar spesifik. Menurut ibu rumah tangga ini, ia menyadari anak keduanya, Michael, 8, mengalami kesulitan belajar saat bocah laki-laki ini masuk SD. Awalnya Michael mengalami kesulitan belajar dan selalu tertinggal dibanding teman-temannya.

„Michael juga selalu mengeluh kepada saya karena sulit mencerna pelajaran yang diterimanya,“ ujar Venty kepada Media Indonesia, Selasa, 2/5. Akibatnya bocah ini menjadi minder dengan kondisinya dan membuat dia enggan pergi ke sekolah.

Ibu dua putra ini menyadari kesulitan Michael. Padahal putranya itu bukan siswa yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Setelah berkonsultasi dan melakukan observasi dengan seorang psikolog, ternyata Michael mengalami kesulitan belajar spesifik (LD) yakni sulit berkonsentrasi (ADD/Attention Deficit Disorder).

Akhirnya setelah enam bulan bersekolah di SD biasa, Venty pun memindahkan buah hatinya ini ke SD Pantara, sebuah sekolah yang mengkhususkan dalam pendidikan untuk anak-anak LD. Hanya dalam waktu dua minggu Michael mulai menunjukkan perubahan yang berarti. „Dia menjadi lebih percaya diri dan yakin bahwa sesungguhnya ia juga mampu belajar,“ ungkapnya.

Sistem Belajar

Kemajuan yang diperoleh Michael tak lepas dari sistem belajar yang dilakukan sekolah ini. Di sana para siswa dapat belajar sesuai dengan kesulitan mereka. Menurut Kepala SD Pantara, Deisi A. Gautama, Psi, masih banyak orangtua yang tidak menyadari jika buah hati mereka mengalami LD.

Umumnya, meskipun anak-anak ini mengalami kesulitan belajar, mereka sebetulnya memiliki kecerdasan rata-rata atau bahkan di atas rata-rata.

Sistem belajar yang lebih banyak praktek membuat anak-anak ini sangat menikmati materi yang diajarkan guru mereka. „Setiap kelas maksimal berisi 10 orang murid, dibimbing oleh dua orang guru,“ kata Deisi. Venty mengakui perhatian penuh yang diberikan guru kepada muridnya sangat efektif karena kebutuhan setiap anak berbeda-beda. Akibatnya anak menjadi lebih dihargai. Selain itu Venty mengikutsertakan jagoan ciliknya ini kursus piano dan Kumon. Kini, Michael pun mulai tumbuh menjadi anak yang mandiri dan percaya diri.-Prihandini/M-3

March 5, 2010

Mendeteksi Depresi Pada Anak

Filed under: Child Education — by myhealthylife @ 4:12 pm

Apa yang terlintas di kepala, saat melihat anak kita gemar membanting pintu untuk mengekspresikan kekesalannya? Jika kita berpikir itu hanyalah fluktuasi emosi yang harus dihadapi, ada baiknya kita juga “mencurigai” mungkin saja anak kita tengah depresi.

Survei di Amerika Serikat mengestimasi, setidaknya ada 10 persen dari anak-anak yang mengalami depresi akibat proses akil balik. Dan sebagian besar dari mereka tak pernah mendapatkan pertolongan. Inilah yang mempertajam risiko depresi mereka saat dewasa, khususnya masa-masa perubahan hormon terjadi. Maka ada baiknya sebagai orang tua, kita mengetahui tanda-tanda depresi pada anak.

Baca selengkapnya…

Cara Menenangkan Emosi Anak

Filed under: Child Education — by myhealthylife @ 4:02 pm

Salah satu peranan orang tua yang tak mudah dilakukan adalah menenangkan anak kita ketika mereka tengah marah, sedih, atau kesal terhadap sekelilingnya. Tak mudah dilakukan, karena kita butuh trik khusus untuk membuat mereka tidak mengeluarkan rengekan yang justru menguji kesabaran kita. Coba hadapi mereka dengan tip berikut ini, agar anak-anak bisa dengan tenang menghadapi segala masalah yang dihadapinya.

Selengkapnya..

February 27, 2009

Why Your Toddler Hits and Bites

Filed under: Child Education — by myhealthylife @ 5:22 pm

By Karen J. Bannan; Photo by Alexandra Grablewski

It’s natural to worry, but relax: It’s just a passing stage that you can help control.

Is Your Kid a Bully?

is-your-kid-a-bully1

Three-year-old Caden Branchflower is occasionally guilty of hitting his younger brother, Ridge. This might seem like bullying — after all, he’s a big boy hitting a smaller child. Luckily for Caden, that’s not how his mom, Erin, sees it. “He doesn’t know how else to express himself at this age, so I just step in quickly,” says Branchflower, of Fort Collins, Colorado. “I explain that we don’t like that behavior and it’s not okay.”

She has the right attitude. While many parents of hitters, biters, and spitters panic when their toddler acts out, they shouldn’t feel too bad. Technically, a child this young can’t be a bully. “Two- and 3-year-olds don’t yet fully understand their emotions or anyone else’s, so they don’t intentionally hurt someone’s feelings,” says Edward Carr, PhD, leading professor in the department of psychology at the State University of New York at Stony Brook.

Toddlers are constantly testing cause and effect — “If I do this, what will happen?” They’re also using the only tools they have, says Theodore Dix, PhD, associate professor of human development and family sciences at the University of Texas at Austin. “They don’t have the skills to get what they want in a reasonable way, so they may act pushy or overly defiant,” he says.

Still, that’s not a free pass to sit back and let your child be mean. If you don’t intervene now, he may become a real bully as he gets older because he won’t know another way to express his needs. Here’s how to end aggression now.

What to Do When Your Child Bites or Hits
Call a time-out. If you see your child hitting, biting, or spitting, stop the behavior immediately. Try to speak calmly, but if your child doesn’t listen, take her aside and say, “You’re out of control. You need a time-out to calm down.”
Don’t demand an explanation. Asking a child why he did something wrong implies that there may be times when it’s okay to be mean. That’s not to say you shouldn’t look for a cause. If your kid pulled his friend’s hair because his pal was hogging the swing, do help them take turns after you’ve dealt with the hair-pulling. “This shows kids they live in a just world and that if they tell you about something unfair or upsetting, you’ll try to fix it,” explains Dr. Dix.
Try not to lose it. Some kids believe that any kind of attention beats no attention at all. So if you freak out when your child does something wrong, she’ll be intrigued (“Wow, Mommy went crazy!”) and she’ll have incentive to act up again.
Tie kids’ actions to other people’s feelings. Toddlers have a limited understanding of how their behavior affects others. Your child needs to know how his friend felt when he got kicked. Say, “That hurt Sam and made him feel bad.” Tell him you know it’s hard to share, but kicking someone is not the right thing to do.
Help your child calm down. Toddlers get just as upset as adults do when they lose control. After a brief time-out, talk to your child in a comforting and compassionate way. Say, “I know it feels terrible to get so upset and make someone else feel bad.” This helps kids understand their emotions and learn to label them.
Don’t force kids to include others. Sometimes, your child may act like a bully by excluding other kids, but it’s actually a normal part of social development, says Dr. Carr. “In a small group, toddlers get their friends’ approval when they tell another child he can’t play,” he says. “By excluding someone, your child is saying ‘You’re special’ to the kids she’s already playing with.” The solution: Find a time when your child and her left-out buddy are apart and let her know that you saw what happened — and that excluding someone isn’t nice.
Start teaching problem-solving skills. Do make it fun: Use imaginary play to help your child learn positive ways to resolve a sticky situation. You might pretend to be another child who has taken your toddler’s favorite toy. Teach him how to use his words (“That’s my toy — please give it back”), and if that doesn’t work, tell him he should ask an adult for help. Act out these scenes often so that the lessons sink in. Just keep trying — and soon you’ll have a really sweet kid.

Why She Needs to Say Sorry
If you’ve ever seen a child mumble a halfhearted sorry, you might think that it’s pointless to ask your toddler to apologize. After all, will she really mean it at this age? Maybe not — but even if she doesn’t today, she will someday, and it’s a good idea to start practicing now. “Your child will come to understand what being sorry really means,” says Dr. Edward Carr. “And it’s helpful to encourage her to say it now.” Do be empathetic: Tell your child that you know saying sorry may be hard for her because it means she’s done something wrong. “Explain that it feels bad to know you hurt someone, but it’s important to tell people we’re sorry when we do.”

When Your Kid’s the Victim
You’ve probably seen her at the playground: the clueless mom who doesn’t seem to notice that her kid just sank his teeth into your child’s arm. While you can’t come out and tell someone to discipline her child, it is possible to get an oblivious parent to step in — without putting her on the defensive.

First, state the problem simply: “Your child just bit my daughter. Can you help me?” Once the kids start calming down, encourage them to do something independently for a while. “You might say, ‘Let’s see if you can both build the mommies some cool sand castles,'” says Dr. Edward Carr. “If the kids are busy doing something fun and positive, they won’t be slugging each other.”
And if that doesn’t work? You can always leave if things get too rough. “Bottom line: If the other mom really thinks biting is no big deal, the kids shouldn’t play together anymore,” says Dr. Carr. But in most cases, the other mom will feel terrible about her child’s behavior and will try to get him to stop.

Copyright © 2008. Used with permission from the January 2008 issue of Parents magazine.

© Copyright 2008 Meredith Corporation. All Rights Reserved.

September 8, 2008

Remaja Obese dan Resiko Kerusakan Hati/Liver

Filed under: Health — by myhealthylife @ 10:32 am

TRENTON, N.J. – Terdapat perkembangan fakta baru yang mengkhawatirkan bahwa para remaja yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas) kemudian mengalami kerusakan hati akibat kelebihan lemak tubuh, dan sebagian di antara mereka bahkan sampai membutuhkan transplantasi organ hati.

Dan banyak lagi di antara para remaja ini yang akan memerlukan hati baru pada usia 30-an atau 40an, kata para ahli, yang memperingatkan agar para dokter anak lebih waspada dan pro-aktif. Kondisi seperti itu, yang dapat bermuara pada cirrhosis hati atau kegagalan hati atau bahkan kanker hati, mulai terlihat pada anak-anak di AS, Eropa, Australia, dan bahkan beberapa negara berkembang, menurut sejumlah riset kedokteran yang tiba-tiba marak belakangan ini dan menurut beberapa dokter yang diwawancara oleh The Associated Press.

Yayasan Hati Amerika (The American Liver Foundation) dan beberapa pakar lainnya memperkirakan 2 hingga 5 persen anak-anak Amerika di atas usia 5 tahun, dan hampir sebagian besar di antaranya obese atau overweight, mengalami kondisi kerusakan hati seperti ini, yang dikenal dengan sebutan nonalcoholic fatty liver disease atau penyakit hati berlemak yang bukan disebabkan oleh alkohol.

Silahkan baca kelanjutannya di link di bawah ini. Mohon maaf terjemahannya menyusul :))

Read on..

August 4, 2008

Bahaya Sampah Plastik bagi Lingkungan dan Kesehatan

Filed under: Health — by myhealthylife @ 5:50 pm

Oleh:
Roller Wirda luthfiah
Jakarta Utara
dha_gun2@yahoo.co.id

Republika Online: 31 Juli 2008

NETIZEN–Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola.

Diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk membuat sampah bekas kantong plastik itu benar-benar terurai. Namun yang menjadi persoalan adalah dampak negatif sampah plastik ternyata sebesar fungsinya juga.

Lalu apakah anda tahu bahaya apa saja yang disebabkan kantong plastik bagi lingkungan hidup?

Dibutuhkan waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Ini adalah sebuah waktu yang sangat lama. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah.
Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakaranya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf dan memicu depresi.

baca selengkapnya..

July 23, 2008

7 Secrets to Raising a Happy Child

Filed under: Child Education — by myhealthylife @ 5:45 pm

By Marguerite Lamb

We all want the same things for our kids. We want them to grow up to love and be loved, to follow their dreams, to find success. Mostly, though, we want them to be happy. But just how much control do we have over our children’s happiness? My son, Jake, now 7, has been a rather somber child since birth, while my 5-year-old, Sophie, is perennially sunny. Jake wakes up grumpy. Always has. Sophie, on the other hand, greets every day with a smile. Evident from infancy, their temperaments come, at least in part, from their genes. But that doesn’t mean their ultimate happiness is predetermined, assures Bob Murray, PhD, author of Raising an Optimistic Child: A Proven Plan for Depression-Proofing Young Children — for Life (McGraw-Hill).

Read on..

10 little expenses that add up fast

Filed under: Household Finance — by myhealthylife @ 10:15 am

Do you wonder where your money goes, especially if you’re not a big spender? It’s surprisingly easy to blow thousands, a few dollars at a time.

By Bankrate.com

It’s easy to fritter away money on little daily expenses. If you fall into these money traps, learn to avoid them and pocket the savings.

Complete article…

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.