Healthy Life, Good Life

Welcome Page

Welcome to my blog. nr-2.JPG

This blog is created to voice my concern with the low quality of family life in our beloved country which has resulted in the low quality of our young generation. Just observe the situation of our children when they come out of high schools. Do they know about the law and their duties to abide by the law? No. What do they know about good nutrition? Zero. Most youngsters prefer junkfood from vegetables and fruits. Do they know how to keep themselves healthy? No. And even parents are not aware of good nutrition for their children. So how could we expect children to fend for themselves when they start to be out in the world for themselves?

Certainly there are some who manage to come out as mature ‘persons’, both physically, emotionally as well as spiritually. But the majority of our children have grown to be just incomplete persons, with malnourished bodies, and empty souls caused by lack of parents’s guidance. And when later they become leaders in society, or public office holders, they turn to be leaders who follow their own interests and show no concern for nor represent the public good. And look what have become of our country.

Is it a reflection of the low quality of education that we receive? Is this the Indonesia, the country, that we want?

I have a dream that this blog can serve as an arena for exchange of views on education, family life, health, children’s psychological development in general, on parents’ responsibility in taking care of the health and growth of their children, on the philosophy of life in general and maybe even on the impact of the non-functioning of the state and government on our life.

Let us share..

————————————————————————-
Selamat datang di blog ini.

Blog ini saya ciptakan untuk menyuarakan keprihatinan saya tentang rendahnya kualitas kehidupan keluarga di negeri tercinta, yang telah berakibat rendahnya kualitas generasi muda kita. Coba kita amati keadaan anak-anak kita pada saat mereka tamat SMA. Apakah mereka sadar hukum, dan apakah mereka tahu bahwa mereka harus mematuhi hukum? Tidak. Apa yang mereka ketahui tentang nutrisi yang baik? Nol. Anak-anak lebih memiliki ‘junk food’ dan ‘fast food’ – makanan cepat saji – daripada sayuran dan buah-buahan. Apakah mereka tahu bagaimana menjaga kesehatan mereka? Tidak. Bahkan kebanyakan orangtua tidak memiliki kesadaran tentang nutrisi yang baik untuk anak-anaknya. Lalu bagaimana mungkin anak-anak mampu mempertahankan dirinya ketika mereka harus mulai berhadapan dengan ‘dunia luar’?

Tentu ada beberapa yang berhasil menjadi ‘manusia’ yang dewasa, baik secara fisik, jiwa, emosi dan spiritual. Tapi mayoritas anak-anak kita hanya tumbuh menjadi orang-orang yang tumbuh seadanya, dengan tubuh kekurangan gizi, jiwa kosong, kurang bimbingan orangtua, dan kalaupun kemudian menjadi pejabat publik atau pemimpin, mereka jadi pejabat yang mementingkan diri sendiri, tidak peka terhadap kepentingan orang lain dan tidak mampu mewakili kepentingan rakyat. Dan lihatlah apa jadinya negeri ini.

Apakah keadaan ini cermin dari rendahnya kualitas pendidikan yang kita terima? Inikah Indonesia, negeri kita, yang kita inginkan?

Saya berharap blog ini bisa menjadi ajang tukar pendapat tentang pendidkan, keluarga, kesehatan, psikologi perkembangan anak secara umum, tentang tanggung jawab orang tua dalam memelihara kesehatan dan perkembangan anak-anak, tentang falsafah hidup umumnya atau bahkan tentang dampak tak berfungsinya negara dan pemerintah terhadap kehidupan kita.

Yuk, kita share..

6 Comments »

  1. kita terlalu dimanjakan, sehingga malas…
    kita terlalu bangga masa lalu, sejak revolusi dimana bambu runcing bisa mengalahkan tank dan pesawat tempur. kita bisa berbuat sesuatu, mulai dari diri sendiri.. to start from ourself…

    Comment by ltmi — December 6, 2006 @ 4:22 pm |Reply

  2. I really appreciate this Mba Anung…
    Setelah saya punya anak, rasanya dunia ini sangat tidak bersih, tidak aman dan tidak bersahabat ya…Setelah ketemu Mba Anung dan system sehatnya, saya coba untuk mulai mengikuti…belum semua…belum separuh…but at least I started it.

    Anak saya…
    sekarang 2,5 tahun…kalau lagi mau makan ya dia makan apa saja yang kita masak untuk dia…sayur-sayuran mau…tapi kalau lagi tidak mau makan…yah tidak mau. Satu jam cuma dapet satu suap yah biarkanlah.Makannya di stop…ada dokter yg bilang makan lebih dari 45 menit gak efisien lagi. Bener gak ya?

    Saya ada baca di blog ini…masalah anak 2 tahun yang menyebalkan. Rasanya tega bener kalo bilang anak saya menyebalkan…tapi memang agak ya…bagaimana menghadapinya ya…??

    Saya belum tahu cara pakai blog ini …mudah2an ini sudah benar.
    Thanks so much.

    Comment by Vonica — January 23, 2007 @ 3:50 pm |Reply

  3. Vonica,
    Soal topik “anak 2 thn yang menjengkelkan” itu jangan dilihat sebagai sikap seolah-olah kita memusuhi anak kita. Bukan itu maksudnya. Hal itu harus dipahami sebagai satu tahapan dalam perkembangan jiwa anak.
    Ada beberapa masa ‘pancaroba’ atau ‘krisis’ dalam tahapan-tahapan perkembangan jiwa seorang anak (manusia). Pertama, usia 2 tahun (ya yang disebut “the terrible two” itu). Memasuki usai dua tahun, seorang anak akan mulai memahami bahwa ada “aku” dan “aku” punya keinginan, yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan Mama atau orang lain. Pada umur inilah anak mulai menunjukkan ke”aku”annya. Dan memang sangat menjengkelkan. Tapi sebagai orangtua, sangat salah kalau kira memberi reaksi yang berlebihan dengan bersikap keras pula. Tugas kita sebagai orangtua adalah mendampingi anak-anak kita melewati krisis-krisis atau pancaroba-pancaroba di sepanjang hidupnya, sehingga ia akhirnya berhasil melampaui semua tahapan, dan “keluar” sebagai manusia dewasa yang matang secara fisik maupun jiwa.
    Masa krisis lainnya terjadi pada usia 6-7 tahun (usia memasuki SD), lalu pada usia 12-13 tahun (memasuki masa remaja/pubertas/teenager) – yang jauh lebih sulit lagi, dan ada krisis pra-dewasa pada usia 19-20 tahun, dan kalau kita sebagai orangtua berhasil menjadi pendaming yang baik bagi anak kita dalam semua tahapan tersebut, pada usia 23-24 tahun, ia sudah menjadi manusia yang matang.
    Untuk rincinya, kita sebagai orangtua harus mau mencari informasi. Cari buku tentang tahapan perkembangan anak di toko buku, atau konsultasi pada psikolog. Saya akan cari bahan tentang ini di internet. Kalau dapat akan saya kabari. Nanti smskan ke saya alamat emailmu ya.

    Comment by myhealthylife — January 24, 2007 @ 2:44 pm |Reply

  4. Dear Mbak Anung,

    Selamat untuk blog myhealthylife-nya, apa yang disajikan sangat informatif dan menambah wawasan bagi kami, semoga dengan adanya blog ini dapat digunakan oleh rekan-rekan sekalian untuk saling berdiskusi dan saling bertukar informasi baik tentang info sehat maupun pendidikan.

    btw, mohon informasi bagaimana caranya seandainya saya mempunyai artikel-2 kesehatan, dsb yang ingin saya kirimkan ke blog ini, yang barang kali bisa berguna untuk kita semua, maklum untuk masalah yang satu ini saya masih gaptek….

    sekali lagi selamat, dan saya tunggu informasinya.

    salam,

    Rudi

    Comment by Rudi — February 15, 2007 @ 4:04 pm |Reply

  5. sebenarnya masa pra dewasa itu dari umur berapa sampai berapa? Lalu perilaku apa yang biasanya di timbulkan pada saat masa pra dewasa?

    terimakasih yawh…

    Comment by elfa — March 23, 2009 @ 1:15 pm |Reply

  6. @ Rudi: silahkan saja dikirimkan via email saya: nurrachmi@yahoo.com. Akan saya muat dengan menyebutkan penulisnya (Anda).

    @ Elfa: Masa pra-dewasa itu dimulai ketika masa remaja terlewati. Pada kasus anak saya, 1 bulan setelah ultahnya yang ke-17, dia tiba-tiba datang ke saya dengan senyum2: “Bu, ternyata memang betul ya, begitu masuk umur 17, keinginan untuk membantah dan melawan Ibu ya surut begitu aja..”
    Dan sepanjang 17-20, dia merasa jadi memiliki sudut pandang baru terhadap berbagai hal. Ini tentu saja mengubah pandangan dan pendapatnya tentang banyak hal, dan jadi lebih positif menghadapi hidup.
    Jangan lupa, seseorang bisa disebut ‘berhasil’ memasuki usia dewasa ketika pengendalian dirinya sudah bisa berjalan dengan baik. Seorang yang dewasa ditandai dengan kemampuan mengendalikan diri dan emosi dalam berbagai situasi.
    Tapi jangan pula jadi panik ketika usia Anda ternyata sudah lewat 21 tahun dan tanda-tanda ini belum kelihatan. Anda masih suka marah dan emosi ketika dihadapkan pada masalah, misalnya. Ada baiknya dibicarakan dengan orang yang memahami soal ini, untuk mengetahui kiat-kiat menjadi dewasa :))
    Selamat berproses ya ..

    Comment by myhealthylife — April 2, 2009 @ 5:39 pm |Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: