Healthy Life, Good Life

February 26, 2007

Menerima Dia Apa Adanya

Filed under: Child Education — by myhealthylife @ 11:40 am

Rubrik BERANDA, Media Indonesia, Minggu, 7 Mei 2006

Tidak ada orangtua yang tidak mau anaknya berprestasi. Karena prestasi itu menjadi sebuah kebanggaan. Sayangnya, tidak semua anak memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama. Terlebih bila kita memiliki anak-anak dengan kebutuhan khusus yang memiliki kesulitan pada satu atau beberapa bidang seperti membaca (disleksia), menulis (disgrafia), berhitung (diskalkusia), berbahasa (disfasia), berkonsentrasi, dan hiperaktif. Merekapun lantas mengalami kesulitan belajar.

Atie W. Soekandar, praktisi pendidikan sekaligus pendiri Yayasan Pantara, mengatakan biasanya orangtua tidak mengetahui kalau anak mereka mengalami kelainan seperti ini. Bahkan mereka kerap menyalahkan pihak lain, guru sekolah misalnya.

“Kelainan ini tertutupi karena anak terlihat nakal, bodoh, atau kalau di sekolah orangtua menyalahkan guru yang tidak bisa mengajar anaknya. Padahal, di tempat lain anak terlihat cerdas,” jelas Atie dalam diskusi bertajuk “Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak dengan Kebutuhan Khusus“ di Jakarta, Sabtu (29/4).

Menurut Atie, anak seperti ini tidak berbeda dengan teman sebaya mereka. Anak dengan kebutuhan khusus tidak memiliki gangguan otot motorik maupun kelainan mental. Jika kualitas intelektual mereka diuji, hasilnya tidak berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya.

Kelainan seperti ini bisa terjadi akibat orangtua yang kurang menjaga diri saat mengandung. Misalnya banyak merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol. Penyebab lainnya ialah kesulitan saat proses persalinan seperti terjepit tali pusar. Akibatnya, anak mengalami masalah dalam pertumbuhan otak dan terjadilah disfungsi minimal otak.

Deteksi Dini

Sedangkan Indri Savitri, Kepala Divisi Klinik dan Layanan Masyarakat di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI) mengatakan, orangtua maupun guru di sekolah bisa mengenali gejala anak dengan kebutuhan khusus sejak dini, terutama ketika usia pra-sekolah.

„Perhatikan saja bila dia mudah kesasar, sulit membedakan bentuk, sulit membedakan mana yang inti mana yang bukan,“ ujar Indri kepada Media Indonesia di Jakarta, Selasa (2/5).

Jika hal ini tidak diantisipasi sejak dini, anak akan mengalami dampak psikis maupun akademis. Kesulitan dalam belajar adalah salah satu bentuk dampak akademis yang dialami anak dengan kebutuhan khusus.

Bagi disleksia, misalnya, dia akan kesulitan membaca dengan lancar. Sehingga kemampuan dalam belajar pun cenderung rendah. Sedangkan dampak psikis membuat anak merasa tidak percaya diri, karena ejekan teman-teman di sekolah.

Selain itu, ekspektasi orangtua yang menginginkan anaknya berprestasi bisa membuat harga diri anak melemah ketika harapan itu tidak terpenuhi. Kondisi ini membuat anak menjadi tidak optimal dalam kehidupannya.

Menerima apa adanya sang anak sesungguhnya merupakan kata kuncinya. Sebab, setiap anak dilahirkan dengan keunikan berbeda. „Jika anak mengalami kesulitan dalam belajar, lihat dia secara menyeluruh. Pasti ada talent di bidang lain seperti seni, musik, atau lainnya. Jika orangtua membantu mengenbangkan kemampuan diri anak, ini bisa meningkatkan harga dirinya,” jelas Indri.

Itu sebabnya Atie menegaskan perlunya kerjasama antara orangtua dan guru di sekolah guna mengetahui setiap perkembangan diri anak. Anak dengan kebutuhan khusus memerlukan sistem pembelajaran yang konkrit, semisal belajar berhitung saat berbelanja di supermarket. Meski kesulitan seperti ini tidak akan hilang saat dewasa, ia masih memiliki potensi lain yang bisa dikembangkan sehingga tumbuh menjadi anak yang mandiri.- Hiko Erlina/M-3

3 Comments »

  1. Bagaimana kalau ciri anak itu : sulit konsentrasi baik dalam belajar, maupun waktu berkomunikasi dengan orang lain, dia juga terus menerus melakukan kesalahan yang sama meskipun sudah dimarahin padahal waktu dimarahin seakan-akan dia takut banget, dia tidak mudah bergaul dengan teman sebayanya, maksudnya, dia tidak mudah memahami apa yang teman-temannya lakukan, bicarakan atau mainkan, sehingga seringkali tersisihkan dilingkungannya. Untuk kewajiban yang sifatnya rutin dan memang dia butuhkan seperti mandi, memakai baju setelah mandi, memakai seragam ketika akan berangkat sekolah, makan dan hal-hal kecil lainnya selalu harus diingatkan, jika tidak dia tidak akan melakukan itu semua. Sudah beberapa kali dicoba untuk memupuk kemandiriannya dengan menunjukkan akibat jika dia tidak segera melaksanakan hal-hal tadi, tetap kebiasaan untuk selalu diingatkan itu muncul lagi. Apa yang harus dilakukan ayah dan ibunya untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah ini? Mohon jawaban yang lengkap. Terima Kasih… Kami sangat membutuhkan Jawabannya…

    Comment by tia datu — February 21, 2009 @ 10:23 pm |Reply

  2. Dear Tia,
    Terima kasih atas komentar dan pertanyaannya. Jawaban yang lengkap sudah saya kirim via email.
    Tapi saya ingin mengingatkan lagi, bahwa seorang anak lahir sebagai “kertas kosong yang putih bersih”. Dia tidak punya referensi samasekali tentang mana yang baik dan mana yang buruk, apa yang harus dilakukan dalam hidupnya, dsb. Orangtuanya lah yang memiliki kewajiban memberi bimbingan dan memberitahukan apa-apa yang ia perlukan dalam hidupnya.
    Dan dalam memberi bimbingan, jangan lupa bahwa dia aadalah “anak” kita, dititipkan oleh Yang Kuasa untuk dibesarkan dan dibimbing. Jangan lupa pula, tugas kita sebagai orangtua bukan hanya memberinya makan agar dia menjadi besar, memberi pendidikan agar dia pintar. Jadi bukan cuma menumbuhkan fisik dan otaknya saja, tapi justru yang paling penting adalah menumbuhkan jiwanya, agar dia menjadi manusia yang “dewasa” dan “utuh” jiwa maupun raganya.
    Untuk itu, sangat penting bahwa anak dibesarkan dalam suasana kasih sayang, untuk memberinya rasa aman bahwa ia diterima sebagai anak yang sedang tumbuh, yang sudah pasti melakukan “trial and error”. Kita aja yang dewasa, yang sudah mengenyam pendidikan hingga universitas, yang sudah bergaul dengan banyak sekali jenis manusia, masih sering melakukan kesalahan, apalagi seorang anak yang masih kecil yang sudah dibebani dengan banyak sekali hal yang harus ia pelajari, ditambah dengan banyak sekali pelajaran sekolah yang harus pula ia pahami.
    Jangan sungkan untuk bertanya dan belajar dari orang lain soal pendidikan anak ini ya..
    Semoga kita menjadi orangtua yang mampu menjadi tiang pegangan, tempat berlindung dan sandaran bagi anak-anak kita hingga tiba waktunya kita “melepas” mereka menuju kedewasaan..
    Salam manis.

    Comment by Anung — February 27, 2009 @ 3:06 pm |Reply

  3. Terima kasih sekali untuk nasehatnya,sangat berharga untuk saya. jangan bosan kalau saya konsul lagi, ya. Andaikan saya di jakarta, pasti qt uda beberapa kali ketemu,tapi rumah saya di surabaya.
    Kami bener-bener pingin senantiasa memperbaiki diri, terutama dalam hal mendidik anak, karena saya rasa mereka sering menjadi penerima beban (dampak) terbesar dan terdepan manakal qt sebagai ortunya sedang mengalami masalah, padahal mereka adalah investasi terbesar qt didunia dan diakherat nanti. Tolong bantu kami dan terima kasih atas nasehatnya.

    Comment by tia datu — March 5, 2009 @ 9:04 pm |Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: