Healthy Life, Good Life

December 4, 2006

Demam ‘Smack Down’

Filed under: Child Education — by myhealthylife @ 4:15 pm

Kita semua prihatin dengan tewasnya 2 orang anak dan banyaknya anak-anak lain yang terluka (patah tangan atau kaki, gegar otak, memar parah) akibat mempraktekkan adegan ‘smack down’ seperti yang diperlihatkan oleh sebuah tayangan di TV.

Pihak stasiun TV berdalih bahwa tayangannya sudah diberi tanda BO (bimbingan orangtua) yang artinya orang tua harus mendampingi anak-anak bila menonton tayangan tersebut. Banyak pihak yang menyalahkan pihak orang tua yang tidak mendampingi anak-anaknya.

Akan tetapi, sesungguhnya dalih itu sangat tidak masuk akal. Meski dikatakan bahwa jam tayang acara tersebut adalah pk 21.00, namun kita tahu persis bahwa acara tersebut juga diulang pada siang hari. Dan kita juga tahu bahwa pada jam 21.00 sebagian besar anak-anak masih belum pergi tidur. Apalagi bagi anak-anak yang orangtuanya bekerja, biasanya mereka baru akan tidur setelah orangtuanya pulang. Jadi seharusnya acara Smack Down ditayangkan betul-betul untuk orang dewasa, yakni setelah jam 23.00.

Tapi sesungguhnya apa arti kejadian ini? Dan apa implikasinya?

Dampak negatif yang dialami anak-anak pada dasarnya memperlihatkan pada kita bahwa anak-anak belum mempunyai pertimbangan tentang mana perilaku yang baik dan mana yang buruk. Mana perilaku yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Mana yang bisa diterima masyarakat dan mana yang tidak. Kenapa diperbolehkan dan tidak.

Misalnya, bahwa meniru laga a la smack down ternyata berbahaya bagi orang lain. Bahwa temannya bisa terluka parah akibat ‘bantingan’nya.

Adalah tugas orangtua untuk menjelaskan kepada anak-anaknya tentang perilaku yang baik dan yang tidak baik. Mana yang dapat diterima oleh masyarakat dan mana yang tidak, dan kenapa. Intinya, tentang tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab di dalam masyarakat.

Sayangnya, banyak orangtua yang memang lalai dalam hal yang satu ini, dan membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa bimbingan yang baik. Sebabnya bisa banyak. Ada yang memberi alasan karena sibuk bekerja. Ada yang berdalih tidak sempat. Tapi lebih banyak yang mengaku karena tidak tahu bagaimana caranya menerangkan hal yang ‘sulit’ tersebut. Bahkan ada yang mengaku tidak menyadari tugas tersebut.

Bagaimanapun, semua dalih tersebut membuat saya berpikir, betapa menyedihkannya situasi kehidupan keluarga di masyarakat kita. Dan menurut saya alasan-alasan tersebut sangat apologis.

Sebab ketika kita memutuskan untuk menikah, artinya kita sudah paham bahwa pernikahan tersebut akan diikuti dengan lahirnya anak-anak. Artinya lagi, kita sudah harus siap menerima tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak kita: memberi makan makanan yang baik, memberi pendidikan yang baik, termasuk mengajarkan nilai-nilai yang baik dan hidup di masyarakat.

Anak-anak dilahirkan ‘suci’, seperti kertas putih yang masih kosong. Adalah kita sebagai orang tua yang bertugas dan berperan untuk mengisi kertas kosong tersebut. Seperti apa ‘kertas kosong’ itu jadinya, apakah akan berwarna merah, atau ungu atau biru, apakah akan berisi banyak lingkaran, atau kubus, atau segitiga, atau gabungan dari lingkaran, segitiga, kubus, trapesium, dsb, apakah akan monoton ataukah akan menarik dan penuh warna, akan sangat tergantung dari apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita.

Ketika orangtua melalaikan “tugas besar” ini, terbentuklah anak-anak yang tumbuh tak terkontrol, tidak memahami apakah perilakunya membahayakan orang lain atau tidak, apakah tindakannya sudah benar atau salah. Dan penuhlah negeri ini dengan manusia-manusia setengah jadi yang bahkan tidak menyadari apa itu tanggung jawab.

Dan menurut pengamatan saya, situasi seperti ini terjadi secara luas di masyarakat kita, baik di kalangan yang berpendidikan formal cukup tinggi maupun yang tidak berpendidikan, baik pada keluarga miskin ataupun kaya.

Kira-kira apa sebabnya ya? Dan apakah meluasnya pemimpin-pemimpin dan pejabat publik yang korup dan hanya mementingkan diri sendiri adalah juga dampak dari cara pendidikan kita seperti ini? Yuk kita pikirkan sama-sama…

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: