Bila anak hidup dengan kritikan,
Ia belajar untuk mengutuk
Bila anak hidup dengan permusuhan,
Ia belajar untuk melawan
Bila anak hidup dengan ejekan,
Ia belajar menjadi pemalu
Bila anak hidup dengan rasa malu,
Ia belajar untuk merasa bersalah
Bila anak hidup dengan toleransi,
Ia belajar menjadi sabar
Bila anak hidup dengan penuh dukungan,
Ia belajar untuk percaya diri
Bila anak hidup dengan pujian,
Ia belajar untuk menghargai
Bila anak hidup dengan keadilan,
Ia belajar menjadi adil
Bila anak hidup dengan rasa aman,
Ia belajar untuk mempunyai keyakinan
Bila anak hidup dengan pengakuan,
Ia belajar untuk menyukai dirinya,
Bila anak hidup dengan kejujuran,
Ia belajar kebenaran
Bila anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,
Ia belajar menemukan rasa kasih sayang di dunia.
(Terjemahan dari Dorothy Law Nolte, 1982)
Rubrik BERANDA, Media Indonesia, Minggu, 7 Mei 2006
Tidak ada orangtua yang tidak mau anaknya berprestasi. Karena prestasi itu menjadi sebuah kebanggaan. Sayangnya, tidak semua anak memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama. Terlebih bila kita memiliki anak-anak dengan kebutuhan khusus yang memiliki kesulitan pada satu atau beberapa bidang seperti membaca (disleksia), menulis (disgrafia), berhitung (diskalkusia), berbahasa (disfasia), berkonsentrasi, dan hiperaktif. Merekapun lantas mengalami kesulitan belajar.
(selengkapnya..)
It was my first acquaintance with the season called autumn; a season I found most difficult to describe, and yet to me the most impressive and inspiring of all season.
If it is melancholy, it is majestic melancholy;
if it is depressing, it is gentle depression;
if it is agony, it is tender agony.
Fuad Hassan
Home is a place where I feel like ‘going home,’ where I am safe and comfortable, where I feel needed and loved, where I love and need all members of my home, where I know that I am in control of my own life, that I could be completely myself.
Anung 2007