Healthy Life, Good Life

December 22, 2006

“Life and Coffee”

Filed under: Creative — by myhealthylife @ 12:35 pm

Life is like Coffee, while occupation, money and position in society is the Cup. A Cup is like the tool to hold and fill Life. The type of Cup that we have neither defines nor changes the quality of Life that we live. Too often, though, because we focus too much on the Cup, we fail to enjoy and appreciate the Coffee that God has provided for us.
Ida Arimurti, 2006.

Kehidupan bagai Kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi di masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita.
Ida Arimurti, 2006.

December 6, 2006

Christmas Light

Filed under: Creative — by myhealthylife @ 12:38 pm

To be Healthy is not Expensive

Filed under: Health — by myhealthylife @ 9:24 am

This morning I received a very sad news. One of my closest friend is sick with lymphatic cancer.

It is sad for me, to know that amidst my personal effort to assist many people to get back in life’s right track after severe health problems, someone dear to me missed my attention.

Surely, I immediately called him and extend my support for him and talked him into a change of lifestyle and eating habits. I am happy that at least he is willing to follow my advice.

True. To be healthy is as simple as changing your lifestyle. More and more research recently proved that most cases of cancer have been caused by bad eating habits and lifestyle. Lack of nutrients, loss of sleep, large amounts of dangerous food additivies and chemical substances poured into our bodies have turned our body metabolism upside down.

It is comparable to having a nice car with a need for premium gasoline but we fill it with diesel. You can imagine what destruction we are causing it.

Such is the destruction that we all are doing to our bodies.

We need the 4 elements of nutrients for our bodies DAILY to be able to perform well:
1. Vitamins (contained mostly in fruits)
2. Minerals (contained mostly in vegetables)
3. Carbohydrates
4. Protein

However, the bulk of our daily food consists of carbohydrates and proteins, We mostly neglect the fact that it is vegetables and fruits that regulates our metabolism.

Now, let’s return to our mother earth. Integrate as much fruits and vegetables to your daily food as possible, and reduce consumption of proteins. Our need for proteins is not as much as it is advertised.

And sleep more and better. Reduce your time of staying up at night. Rest is as important as nutrition.

A change of lifestyle is all we need. Look up my explanation on how to do it at www.geocities.com/nurrachmi.

December 4, 2006

Demam ‘Smack Down’

Filed under: Child Education — by myhealthylife @ 4:15 pm

Kita semua prihatin dengan tewasnya 2 orang anak dan banyaknya anak-anak lain yang terluka (patah tangan atau kaki, gegar otak, memar parah) akibat mempraktekkan adegan ’smack down’ seperti yang diperlihatkan oleh sebuah tayangan di TV.

Pihak stasiun TV berdalih bahwa tayangannya sudah diberi tanda BO (bimbingan orangtua) yang artinya orang tua harus mendampingi anak-anak bila menonton tayangan tersebut. Banyak pihak yang menyalahkan pihak orang tua yang tidak mendampingi anak-anaknya.

Akan tetapi, sesungguhnya dalih itu sangat tidak masuk akal. Meski dikatakan bahwa jam tayang acara tersebut adalah pk 21.00, namun kita tahu persis bahwa acara tersebut juga diulang pada siang hari. Dan kita juga tahu bahwa pada jam 21.00 sebagian besar anak-anak masih belum pergi tidur. Apalagi bagi anak-anak yang orangtuanya bekerja, biasanya mereka baru akan tidur setelah orangtuanya pulang. Jadi seharusnya acara Smack Down ditayangkan betul-betul untuk orang dewasa, yakni setelah jam 23.00.

Tapi sesungguhnya apa arti kejadian ini? Dan apa implikasinya?

Dampak negatif yang dialami anak-anak pada dasarnya memperlihatkan pada kita bahwa anak-anak belum mempunyai pertimbangan tentang mana perilaku yang baik dan mana yang buruk. Mana perilaku yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Mana yang bisa diterima masyarakat dan mana yang tidak. Kenapa diperbolehkan dan tidak.

Misalnya, bahwa meniru laga a la smack down ternyata berbahaya bagi orang lain. Bahwa temannya bisa terluka parah akibat ‘bantingan’nya.

Adalah tugas orangtua untuk menjelaskan kepada anak-anaknya tentang perilaku yang baik dan yang tidak baik. Mana yang dapat diterima oleh masyarakat dan mana yang tidak, dan kenapa. Intinya, tentang tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab di dalam masyarakat.

Sayangnya, banyak orangtua yang memang lalai dalam hal yang satu ini, dan membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa bimbingan yang baik. Sebabnya bisa banyak. Ada yang memberi alasan karena sibuk bekerja. Ada yang berdalih tidak sempat. Tapi lebih banyak yang mengaku karena tidak tahu bagaimana caranya menerangkan hal yang ’sulit’ tersebut. Bahkan ada yang mengaku tidak menyadari tugas tersebut.

Bagaimanapun, semua dalih tersebut membuat saya berpikir, betapa menyedihkannya situasi kehidupan keluarga di masyarakat kita. Dan menurut saya alasan-alasan tersebut sangat apologis.

Sebab ketika kita memutuskan untuk menikah, artinya kita sudah paham bahwa pernikahan tersebut akan diikuti dengan lahirnya anak-anak. Artinya lagi, kita sudah harus siap menerima tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak kita: memberi makan makanan yang baik, memberi pendidikan yang baik, termasuk mengajarkan nilai-nilai yang baik dan hidup di masyarakat.

Anak-anak dilahirkan ’suci’, seperti kertas putih yang masih kosong. Adalah kita sebagai orang tua yang bertugas dan berperan untuk mengisi kertas kosong tersebut. Seperti apa ‘kertas kosong’ itu jadinya, apakah akan berwarna merah, atau ungu atau biru, apakah akan berisi banyak lingkaran, atau kubus, atau segitiga, atau gabungan dari lingkaran, segitiga, kubus, trapesium, dsb, apakah akan monoton ataukah akan menarik dan penuh warna, akan sangat tergantung dari apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita.

Ketika orangtua melalaikan “tugas besar” ini, terbentuklah anak-anak yang tumbuh tak terkontrol, tidak memahami apakah perilakunya membahayakan orang lain atau tidak, apakah tindakannya sudah benar atau salah. Dan penuhlah negeri ini dengan manusia-manusia setengah jadi yang bahkan tidak menyadari apa itu tanggung jawab.

Dan menurut pengamatan saya, situasi seperti ini terjadi secara luas di masyarakat kita, baik di kalangan yang berpendidikan formal cukup tinggi maupun yang tidak berpendidikan, baik pada keluarga miskin ataupun kaya.

Kira-kira apa sebabnya ya? Dan apakah meluasnya pemimpin-pemimpin dan pejabat publik yang korup dan hanya mementingkan diri sendiri adalah juga dampak dari cara pendidikan kita seperti ini? Yuk kita pikirkan sama-sama…

Powered by WordPress.com